Pencemaran Hutan Mangrove

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang

Ekosistem hutan mangrove merupakan sumber daya alam yang memberikan banyak keuntungan bagi manusia, berjasa untuk produktivitasnya yang tinggi serta kemampuannya memelihara alam. Hutan mangrove banyak memberikan fungsi ekologis dan karena itulah hutan mangrove menjadi salah satu produsen utama perikanan laut.

Hutan mangrove memproduksi nutrien yang dapat menyuburkan perairan laut, membantu dalam perputaran karbon, nitrogen dan sulfur, serta perairan kaya akan nutrien baik nutrien organik maupun anorganik. Dengan rata-rata produksi primer yang tinggi Hutan mangrove dapat menjaga keberlangsungan populasi ikan, kerang dan lainnya. Hutan mangrove menyediakan tempat perkembangbiakan dan pembesaran bagi beberapa spesies hewan khususnya udang, sehingga biasa disebut “tidak ada hutan mangrove tidak ada udang” (Macnae,1968).

Orang Indonesia seharusnya bisa berbangga diri menjadi kawasan hutan mangrove terluas di dunia. Sayangnya rekor alam di Indonesia ini diikuti pula dengan rekor kerusakan hutan mangrove terbesar di dunia. Dari tahun ke tahun luas hutan mangrove di Indonesia menurun dengan drastis. Sehingga hanya sedikit saja yang kondisinya sangat baik.

Kasus pencemaran lingkungan semakin marak terjadi sehingga memerlukan penanganan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan. Pencemaran dan perusakan lingkungan terjadi diakibatkan manusia tidak menyadari bahwa pola kehidupan harus memperhatikan hubungan timbal balik dengan lingkungannya yaitu suatu kehidupan manusia yang seimbang dan harmonis dengan system alam. Ketidaktaatan manusia terhadap peraturan mengenai lingkungan hidup menjadi pemicu maraknya kasus pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Penebangan liar yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab tersebut pada akhirnya mengakibatkan bencana banjir pasang yang dialami oleh warga yang mendiami di sekitar pesisir pantai.

Kerusakan hutan Mangrove yang tidak sedikit ini banyak menimbulkan kerugian, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Dari pandangan beberapa nelayan, secara ekonomi kerusakan hutan mangrove membuat ratusan nelayan tidak bisa mendapatkan ikan di daerah hutan mangrove lagi. Kondisi hutan mangrove di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, hal inilah yang melatar belakangi kami untuk menyusun makalah dengan judul “Selamatkan Hutan Mangrove”.

1.2.       Rumusan Masalah

Melihat hutan mangrove yang sudah terancam keberadaannya di Indonesia, maka kami membuat rumusan masalah sebagai berikut:

1.2.1.      Bagaimana cara untuk memelihara hutan mangrove?

1.2.2.      Apa yang akan terjadi apabila hutan mangrove rusak?

1.2.3.      Apa penyebab rusaknya hutan mangrove?

1.2.4.      Bagaimana cara untuk memperbaiki hutan mangrove yang sudah rusak?

1.3.       Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini tentunya memiliki tujuan. Adapun tujuan yang diharapkan  dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.3.1.           Mengetahui cara melestarikan hutan mangrove.

1.3.2.           Mengetahui hal-hal yang menyebabkan hutan mangrove rusak.

1.3.3.           Mengetahui langkah-langkah untuk memperbaiki hutan mangrove.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1.       Pengertian

Hutan mangrove atau yang biasa disebut hutan Bakau, walaupun penyebutan hutan Bakau itu tidak pas sebenarnya karena mangrove hanya merupakan salah satu dari jenis mangrove itu sendiri yaitu jenis Rhizopora spp. Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang khas dan tumbuh disepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove banyak dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari gempuran ombak dan daerah yang landai di daerah tropis dan sub tropis (FAO, 2007).

Dan Hutan mangrove tumbuh pada tempat-tempat terjadinya pelumpuran dan akumulasi bahan organik, baik di teluk-teluk yang terlindungi dari gempuran ombak maupun disekitar muara sungai yang airnya melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan mangrove bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah, salinitas tanahnya tinggi serta mengalami daur penggenangan oleh pasang surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang dapat bertahan hidup di tempat semacam ini.

2.2.       Jenis-Jenis dan zona hidup mangrove

Kemampuan adaptasi dari tiap jenis terhadap keadaan lingkungan menyebabkan terjadinya perbedaan komposisi hutan mangrove dengan batas-batas yang khas. Hal ini merupakan akibat adanya pengaruh dari kondisi tanah, kadar garam, lamanya penggenangan dan arus pasang surut. Komposisi mangrove terdiri dari jenis-jenis yang khas dan jenis tumbuhan lainnya.

Vegetasi mangrove menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. Kelompok utama, terdiri dari Rhizophora, Sonneratia, Avicennia, Xylocarpus.
  2. Kelompok tambahan, meliputi Excoecaria agallocha, Aegiceras sp., Lumnitzera, dan lainnya.

Daya adaptasi atau toleransi jenis tumbuhan mangrove terhadap kondisi lingkungan yang ada mempengaruhi terjadinya zonasi atau permintakatan pada kawasan hutan mangrove. Permintakatan jenis tumbuhan mangrove dapat dilihat sebagai proses suksesi dan merupakan hasil reaksi ekosistem dengan kekuatan yang datang dari luar seperti tipe tanah, salinitas, tingginya ketergenangan air dan pasang surut.

Pembagian zonasi kawasan mangrove yang dipengaruhi adanya perbedaan penggenangan atau perbedaan salinitas meliputi :

1.   Zona garis pantai, yaitu kawasan yang berhadapan langsung dengan laut. Lebar zona ini sekitar 10-75 meter dari garis pantai dan biasanya ditemukan jenis Rhizophora stylosa, R. mucronata, Avicennia marina dan Sonneratia alba.

2.   Zona tengah, merupakan kawasan yang terletak di belakang zona garis pantai dan memiliki lumpur liat. Biasanya ditemukan jenis Rhizophora apiculata, Avicennia officinalis, Bruguiera cylindrica, B. gymnorrhiza, B. parviflora, B. sexangula, Ceriops tagal, Aegiceras corniculatum, Sonneratia caseolaris dan Lumnitzera littorea.

3.   Zona belakang, yaitu kawasan yang berbatasan dengan hutan darat. Jenis mangrove yang tumbuh adalah Heritiera littolaris, Xylocarpus granatum, Excoecaria agalocha, Nypa fruticans, Derris trifolia, Osbornea octodonta dan beberapa jenis tumbuhan yang biasa berasosiasi dengan mangrove antara lain Baringtonia asiatica, Cerbera manghas, Hibiscus tiliaceus, Ipomea pes-caprae, Melastoma candidum, Pandanus tectorius, Pongamia pinnata, Scaevola taccada dan Thespesia populnea.

Hutan mangrove juga dapat dibagi  menjadi zonasi-zonasi berdasarkan jenis vegetasi yang dominan, mulai dari arah laut ke darat sebagai berikut:

1.  Zona Avicennia, terletak paling luar dari hutan yang berhadapan langsung dengan laut. Zona ini umumnya memiliki substrat lumpur lembek dan kadar salinitas tinggi. Zona ini merupakan zona pioner karena jenis tumbuhan yang ada memilliki perakaran yang kuat untuk menahan pukulan gelombang, serta mampu membantu dalam proses penimbunan sedimen.

2.  Zona Rhizophora, terletak di belakang zona Avicennia. Substratnya masih berupa lumpur lunak, namun kadar salinitasnya agak rendah. Mangrove pada zona ini masih tergenang pada saat air pasang.

3.  Zona Bruguiera, terletak di balakang zona Rhizophora dan memiliki substrat tanah berlumpur keras. Zona ini hanya terendam pada saat air pasang tertinggi atau 2 kali dalam sebulan.

4.  Zona Nypa, merupakan zona yang paling belakang dan berbatasan dengan daratan.

Contoh Zonasi Mangrove

2.3.       Fungsi Hutan Mangrove

Hutan mangrove sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Begitu pula dengan fungsinya sendiri. Namun karena factor ekonomi dan kurangnya pengetahuan, makau hutan mangrove dibeberapa wilayah banyak ditebangi. Padahal pohon mangrove merupakan jenis tumbuhan yang sangat penting. Berikut adalah beberapa fungsi hutan mangrove yang dibagi dalam beberapa golongan:

2.3.1.           Fungsi Fisik (Fungsi Ekologis)

  1. Menjaga garis pantai tetap stabil dari abrasi air laut

Dengan adanya hutan mangrove akan menjaga garis pantai untuk tetap stabil dari abrasi air laut. Selain itu pula dapat melindungi pantai dari proses erosi.

  1. Perlindungan terhadap bencana alam

Vegetasi hutan mangrove melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.

  1. Pengendapan lumpur

Sifat  fisik tanaman pada hutan mangrove membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air. Karean bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan mangrove kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.

  1. Sebagai kawasan penyangga proses rembesan air laut ke danau.

Jika terjadi rembesan air laut ke danau, hutan mangrove akan mencegah prose situ terjadi. Karena air laut akan melewati hutan mangrove terlebih dahulu sebelum merembes ke danau.

  1. Sebagai filter air resin menjadi air tawar.

Air resin akan disaring oleh mangrove untuk menjadi air tawar. Karena pohon mangrove menyerap kandungan garan dalam air laut.

  1. Memelihara Iklim

Evapotranspirsi hutan mangrove mampu menjaga kelembaban dan curah hujan kawasan tersebut sehingga keseimbangan terjaga dan perngaruh lainnya yaitu karena keahliannya dalam menyerap karbondioksida (CO2).

2.3.2.           Fungsi Kimia

  1. Penyerap karbon

Proses fotosintesis mengubah karbon anorganik CO2 menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskann karbon kembali ke atmosfer sebagai CO2. Akan tetapi hutan mangrove justru mengandung sejumlah besar bahan organic yang tidak membusuk. Karena itu hutan mangrove lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon. Selain itu pula hutan mangrove merupakan tempat terjadinya proses daur ulang oksigen.

  1. Pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industry dan kapal di laut.
  2. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam

Keberadaan hutan mangrove dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit yang dapat menghalangi berkembangnya kondisi alam.

  1. Sebagai penambatan racun

Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan mangrove bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif.

2.3.3.           Fungsi Biologi

  1. Kawasan perkembangbiakan bagi burung dan satwa lainnya.

Burung dan satwa lainnya yang berada di kawasan pantai akan berkembang biak di tempat yang salah satunya adalah hutan mangrove ini.

  1. Sumber plasma nutfah dan sumber genetika.

Plasma hutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untuk memelihara populasi kehidupan liar itu sendiri.

  1. Habitat alami bagi berbagai jenis biota darat dan laut.

Hutan mangrove sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan mangrove merupakan tempat mendaratnya ribuat burung pantai ringan migran. Termasuk jenis burung langka blekok Asia ( Limnodrumus Semipalmatus ).

  1. Penghasil bahan pelapukan yang menjadi makanan penting bagi invertebrate kecil yang juga berperan sebagai sumber makanan bagi hewan yang lebih besar.
  2. Kawasan pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan (nursery groung) udang.

 

2.3.4.           Fungsi Ekonomi

  1. Sebagai bahan baku industry.

Hasil dari hutan mangrove ini dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku industry.  Karena pada umumnya hutan merupakan penghasil kayu bakar, arang serta kayu untuk bangunan dan perabotan rumah tangga.Akan tetapi pemanfaatan hutan mangrove harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tidak ada penebangan secara berlebihan ataupun penebangan liar.

  1. Sebagai penghasil bibit ikan, udang, kepiting dan telur burung serta madu (nectar).

2.3.5.           Fungsi Wisata

  1. Kawasan wisata alam pantai

Hutan mangrove memiliki nilai estetika baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada didalamnya.

  1. Sarana pendidikan dan penelitian

Upaya pengembangan ilmu pengetahuaan dan teknologi membutuhkan laboraturium lapangan yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.

2.4.       Daur Hidup Hutan Mangrove

Untuk dapat bertahan dan berkembang menyebar di kondisi alam yang keras, jenis-jenis mangrove sejati mempunyai cara yang khas yaitu mekanisme reproduksi dengan buah yang disebut vivivar. Cara berkembang biak vivivar adalah dengan menyiapkan bakal pohon (propagule) dari buah atau bijinya sebelum lepas dari pohon induk. Mangrove menghasilkan buah yang mengecambah, mengeluarkan akar sewaktu masih tergantung pada ranting pohon dan berada jauh di atas permukaan air laut. Bijinya mengeluarkan akar tunas sebagai kecambah sehingga pada waktu telah matang akan jatuh lepas dari tangkai dan siap untuk tumbuh.

Buah ini akan berkembang sampai tuntas, siap dijatuhkan ke laut untuk dapat tumbuh menjadi pohon yang baru. Bakal pohon yang jatuh dapat langsung menancap di tanah dan tumbuh atau terapung-apung terbawa arus sampai jauh dari tempat pohon induknya dan mencari tempat yang lebih dangkal.

Setelah matang dan jatuh ke dalam air, bakal pohon mangrove terapung-apung hingga mencapai tepi yang dangkal. Pada saat menemukan tempat dangkal, posisi bakal pohon menjadi tegak vertical kemudian menumbuhkan akar-akar, cabang dan daun-daun pertamanya. Tumbuh dan berkembangnya pohon mangrove pun bergantung pula pada factor lainnya seperti adanya hewan herbivore yang mungkin memangsanya, nutrient yang cukup, air tawar dan adanya camput tangan manusia.

2.4.1.           Penyerbukan

Polinasi pada kebanyakan spesies mangrove adalah melalui angin, serangga dan burung-burung dan dalam beberapa kasus juga oleh kelelawar. Penyerbukan dilakukan setelah pembungaan. Mangrove memiliki dua tipe mekanisme polinasi yaitu self pollination dan cross pollination yang bervariasi pada tiap spesies. Mangrove diserbuki oleh berbagai kelompok hewan termasuk kelelawar, burung dan serangga. Pollen disimpan hewan ketika mereka menempel pada bunga saat mencari madu, mereka kemudian memindahkan pollen ke stifma bunga lain.

2.4.2.           Sistem Reproduksi

Mangrove merupakan tumbuhan penghasil biji (spermatophyte) dan bunganya sering kalo menyolok. Biji mangrove relative lebih besar dibandingkan tumbuhan lain dan seringkali mengalami perkecambahan ketika masih melekat di pohon induk. Pada saat jatuh, biji mangrove biasanya akan mengapung dalam jangka waktu tertentu kemudian tenggelam. Lamanya periode mengapung lebih dari setahun dan tetap viable. Pada saat mengapung biji terbawa arus ke berbagai tempat dan akan tumbuh apabila terdampar di area yang sesuai. Kecepatan pertumbuhan biji tergantung pada iklim dan nutrient tanah. Biji yang terdampar di tempat terbuka karena pohona mangrove tua telah mati dapat tumbuh sangat cepat, sedangkan biji yang tumbuh pada tegakan mangrove mapan umumnya akan mati dalam beberapa tahun kemudian.

Embryo vivivari adalah kondisi pada saat embryo pertama kali tumbuh, memecah kulit biji dan keluar dari buah pada saat masih melekat pada tumbuhan induk. Kriptovivipari adalah kondisi pada saat embryo tumbuh dan memecah kulit biji, namun tidak keluar dari kulit buah hingga lepas dari tumbuhan induk.

Para pakar banyak berspekulasi mengenai fungsi vivipari atau kriptovivipari tidak ditemukan pada tumbuhan halofita atau tumbuhan rawa-rawa air tawar sehingga kondisi ini tidak disebabkan salinitas atau tanah yang jenuh air.

Vivipari merupakan mekanisme adaptasi untuk mempersiapkan seedling tersebar luas, dapat bertahan dan tumbuh dalam lingkungan asin. Selama pembentukan vivipari, propagul diberi makan pohon induk, sehingga dapat menyimpan dan mengakumulasi karbohidrat atau senyawa lain yang nantinya diperlukan untuk pertumbuhan. Struktur kompleks seedling pada awal pertumbuhan ini akan membantu aklimatisasi terhadap kondisi fisik lingkungan yang ekstrim. Kebanyakan seedling tidak tumbuh di sekitar induk, namun mengapung selama berminggu-minggu hingga jauh dari induknya. Pada kondisi tanah yang sesuai seedling ini dapat berakar dan tumbuh dengan cepat. Vivipari dan propagul yang berumur panjang, menyebabkan mangrove dapat tersebar pada area yang luas (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

Regenerasi mangrove secara alami menggunakan biji dan propagul alami (wildlings) sebagai sumber bibit, sehingga komposisi spesies yang tumbuh tergantung pada populasi mangrove tetangganya. Kemampuan mangrove menyebar dan tumbuh dengan sendirinya tergantung pada kondisi hutan, arus pasang surut, dan stabilitas tanah (Kairo et al., 2001).

  1. 5  Kebijakan Hutan Mangrove Di Indonesia

Departemen Kehutanan sebagai departemen teknis yang mengemban tugas dalam pengelolaan hutan, maka landasan dan prinsip dasar yang dibuat harus berdasarkan peraturan yang berlaku, landasan keilmuan yang relevan, dan konvensi-konvensi internasional terkait dimana Indonesia turut meratifikasinya. Kebijakan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. 5.1  Pengelolaan Hutan Lestari

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa mangrove merupakan ekosistem hutan, dan oleh karena itu, maka pemerintah bertanggungjawab dalam pengelolaan yang berasaskan manfaat dan lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan dan keterpaduan (Pasal 2). Selanjutnya dalam kaitan kondisi mangrove yang rusak, kepada setiap orang yang memiliki, pengelola dan atau memanfaatkan hutan kritis atau produksi, wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan konservasi (Pasal 43).

Adapun berdasarkan statusnya, hutan terdiri dari hutan negara dan hutan hak (pasal 5, ayat 1). Berkaitan dengan hal itu, Departemen Kehutanan secara teknis fungsional menyelenggarakan fungsi pemerinthan dan pembangunan dengan menggunakan pendekatan ilmu kehutanan untuk melindungi, melestarikan, dan mengembangkan ekosistem hutan baik mulai dari wilayah pegunungan hingga wilayah pantai dalam suati wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS), termasuk struktur sosialnya. Dengan demikian sasaran Departemen Kehutanan dalam pengelolaan hutan mangrove adalah membangun infrastruktur fisik dan sosial baik di dalam hutan negara maupun hutan hak. Selanjutnya dalam rangka melaksanakan fungsinya, Departemen Kehutanan sebagai struktur memerlukan penunjang antara lain teknologi yang didasarkan pada pendekatan ilmu kelautan (sebagai infrastruktur) yang implementasinya dalam bentuk tata ruang pantai.

  1. 5.2  Desentralisasi Kewenangan Pengelolaan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Propinsi, maka kewenangan Pemerintah (pusat) dalam rehabilitasi hutan dan lahan (termasuk hutan mangrove) hanya terbatas menetapkan pola umum rehabilitasi hutan dan lahan, penyusunan rencana makro, penetapan kriteria, standar, norma dan pedoman, bimbingan teknis dan kelembagaan, serta pengawasan dan pengendalian. Sedangkan penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan (pada hutan produksi, hutan lindung, hutan hak, dan tanah milik) diselenggarakan oleh pemerintah daerah, terutama Pemerintah Kabupaten/Kota, kecuali di kawsan hutan konservasi masih menjadi kewenangan Pemerintah (pusat).

  1. 5.3 Konservasi dan Rehabilitasi Secara Partisipatif

Dalam program konservasi dan rehabilitasi hutan mangrove, pemerintah lebih berperan sebagai mediator dan fasilitator (mengalokasikan dana melalui mekanisme yang ditetapkan), sementara masyarakat sebagai pelaksana yang mampu mengambil inisiatif.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah disebutkan bahwa penggunaan dana reboisasi sebesar 40% dialokasikan kepada daerah penghasil untuk kegiatan reboisasi-penghijauan dan sebesar 60% dikelola Pemerintah Pusat untuk kegiatan reboisasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan disebutkan bahwa Dana Reboisasi sebesar 40% dialokasikan sebagai Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk rehabilitasi hutan dan lahan di daerah penghasil (kabupaten/kota) termasuk untuk rehabilitasi hutan mangrove.

Hingga saat ini Departemen Kehutanan telah mengkoordinasi dengan Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah serta Bappenas untuk mempersiapkan penyaluran dan pengelolaan DAK-DR dimaksud.

  1. 5.4  Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove

Di dalam menyelenggarakan kewenangannya dalam pengelolaan hutan mangrove, Departemen Kehutanan membawahi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bekerja di daerah, yaitu Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) akan tetapi operasional penyelenggaraan rehabilitasi dilaksanakan Pemerintah Propinsi dan terutama Pemerintah Kabupaten/Kota (dinas yang membidangi kehutanan).

Sedangkan untuk meningkatkan intensitas penguasaan teknologi dan diseminasi informasi mangrove, Departemen Kehutanan sedang mengembangkan Pusat Rehabilitasi Mangrove (Mangrove Centre) di Denpasar, Bali (untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara) yang selanjutnya akan difungsikan untuk kepentingan pelatihan, penyusunan dan sebagai pusat informasi. Untuk kedepan sedang dikembangkan Sub Centre Informasi Mangrove di Pemalang , Jawa Tengah (untuk wilayah Pulau Jawa), di Sinjai, Sulawesi Selatan (untuk wilayah Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya), di Langkat, Sumatera Utara (untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan).

Adapun untuk mengarahkan pencapaian tujuan sesuai dengan jiwa otonomi daerah, Pemerintah (pusat) telah menetapkan Pola Umum dan Standar serta Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Keputusan Menteri Kehutanan No. 20/Kpts-II/2001), termasuk di dalamnya rehabilitasi hutan yang merupakan pedoman penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah (Propinsi dan Kabupaten/Kota) serta masyarakat.

Strategi yang diterapkan Departemen Kehutanan untuk menuju kelestarian pengelolaan hutan mangrove: (1) Sosialisasi fungsi hutan mangrove, (2) Rehabilitasi dan konservasi, (3) Penggalangan dana dari berbagai sumber.

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

3.1     Kondisi Hutan Mangrove Indonesia

Data FAO (2007) luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 2005 hanya mencapai 3,062,300 ha atau 19% dari luas hutan Mangrove di dunia dan yang terbesar di dunia melebihi Australia (10%) dan Brazil (7%).

Di Asia sendiri luasan hutan mangrove indonesia berjumlah sekitar 49% dari luas total hutan mangrove di Asia yang dikuti oleh Malaysia (10% ) dan Mnyanmar (9%). Akan tetapi diperkirakan luas hutan manrove diindonesia telah berkurang sekitar 120.000 ha dari tahun 1980 sampai 2005 karena alasan perubahan penggunaan lahan menjadi lahan pertanian (FAO, 2007).

Data tentang luasan mangrove di Indonesia sangat bervariasi. Kementerian Kehutanan tahun 2007 menyebutkan bahwa luas mangrove Indonesia sekitar 7.758.411 Ha yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan PSSDAL-Bakosurtanal (Peta Mangrove Indonesia, 2009) menyebutkan Luas Mangrove Indonesia sebesar 3.244.019 Ha. kedua instansi tersebut juga mengeluarkan data luas Mangrove per propinsi di 33 Provinsi di Indonesia. luas-luas mangrove di 33 Provinsi dapat dilihat pada tabel berikut:

NASA (2010) juga mengeluarkan informasi tentang luas mangrove dan sebarannya. menurutnya luas mangrove di indoensia telah berkurang 35% antara tahun 1980-2000 dimana luas mangrove pada tahun 1980 itu mencapai 4,2 juta ha dan pada tahun 2000 berkurang menjadi 2 juta ha.

Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua. Namun demikian, kondisi mangrove Indonesia baik secara kualitatif dan kuantitatif terus menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 1982, hutan mangrove di Indonesia tercatat seluas 4,25 juta ha sedangkan pada tahun 1993 menjadi 3,7 juta ha, dimana sekitar 1,3 juta ha sudah disewakan kepada 14 perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (Onrizal, 2002). Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan Kusmana (1995) diketahui bahwa dalam kurun waktu antara tahun 1982 – 1993 (11 tahun), luas hutan mangrove turun sebesar 11,3 % (4,25 juta ha pada tahun 1982 menjadi 3,7 juta ha pada tahun 1993) atau 1 % per tahun. Data Wetlands International sebagaimana yang diungkapkan Drs. Pramudji, M.Sc. dalam orasi pengukuhan Profesor Risetnya 9 Desember lalu, memperlihatkan bahwa luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 2005 tinggal sekitar 1,5 juta ha.

Dalam penelitiannya, Pramudji membagi tingkat kerusakan mangrove itu ke dalam tiga kategori, yakni masih baik, sebagian rusak dan rusak berat. Kondisi terparah terdapat di pantai Utara Nangroe Aceh Darussalam, Teluk Lampung, Tanjung Pasir (Tangerang), Delta Mahakam (Kaltim), Lombok Barat dan teluk Saleh (NTB). Secara umum, kerusakan tersebut disebabkan oleh tiga faktor, yakni faktor antrogenik, faktor alami dan faktor biologis. Penyebab terbesar adalah faktor antrogenik di mana manusia menjadi pelaku utama perusakan itu. Eksploitasi hutan mangrove yang tidak terencana, adanya penebangan liar, pembukaan lahan mangrove untuk areal pertambakan, pertanian, penggaraman dan pemukiman, kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap manfaat mangrove termasuk juga persepsi negatif masyarakat terhadap keberadaan mangrove sudah merupakan contoh konkrit bahwa manusialah sesungguhnya yang punya andil besar merusak ekosistem mangrove tersebut.

Konflik pemanfaatan lahan mangrove selalu menjadi bayang-bayang akan timbulnya degradasi baik fisik dan kualitasnya. Hal ini telah mendapatkan perhatian yang serius bagi banyak kalangan pemerhati lingkungan. Pengembangan tambak-tambak beberapa tahun belakangan dapat dikatakan menjadi salah satu faktor yang merusak karena pengembangannya didahului dengan penebangan mangrove sehingga ekosistem yang telah terbentuk sebelumnya mengalami gangguan. Sedangkan faktor alam yang menyebabkan rusaknya mangrove antara lain seperti: banjir, kekeringan, hama penyakit, tsunami, dan kebakaran yang merupakan faktor penyebab relatif kecil (Tirtakusumah, 1994 dalam Rahmawaty, 2006).

3.2     Akibat Kerusakan Hutan Mangrove

Bisa dibayangkan apabila hutan mangrove yang fungsinya begitu banyak rusak atau bahkan hilang. Banyak kerugian yang akan ditanggung baik oleh manusia maupun makhluk hidup lainnya.  Diantaranya adalah:

  1. Hilangnya variasi Flora dan Fauna dalam hutan Mangrove
  2. Berkurangnya areal hutan Mangrove
  3. Pemanasan Global yang semakin cepat
  4. Abrasi pantai, dan kerusakan terumbu karang.
  5. Terganggunya fungsi konservasi
  6. Degradasi hutan mangrove yang berkelanjutan akan mengganggu ekosistem yang ada di sekitarnya dan secara perlahan akan menghilangkan fungsi serbaguna hutan mangrove sebagai penghambat intrusi air laut.

3.3.       Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove

Hutan mangrove di Indonesi mulai terancam dengan banyaknya lahan mangrove yang ditebang dan dijadikan lahan perkotaan baru atau area pertambakan. Sangat disayangkan ketika tanaman yang memiliki banyak sekali manfaat ini harus ditebang demi keserakahan manusia. Hampir sebagian besar kawasan pesisir pantai di Indonesia telah mengalami kerusakan yang cukup parah terutama diakibatkan oleh pengalihfungsian hutan, pantai menjadi lahan pertambakan dan peruntukan lainnya.

Banyak bencana dan kerugian yang terjadi akibat rusak/hilangnya hutan mangrove. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh:

  1. Penebangan Vegetasi Mangrove. Pembukaan lahan untuk tambak melalui penebangan secara tidak lestari merupakan penyebab utama kerusakan mangrove. Penebangan liar dan penebangan secara berlebihan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab tersebut pada akhirnya mengakibatkan bencana banjir pasang yang dialami oleh warga yang mendiami di sekitar pesisir pantai.
  2. Membiarkan wilayah pesisir tandus dan gersang tanpa adanya upaya penghijauan (misal dengan tanaman mangrove)
  3. Pertambakan. Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab hilangnya hutan mangrove dunia. Tambak merupakan pemandangan umum, baik tambak udang dan bandeng maupun tambak garam.
  4. Reklamasi dan Sedimentasi. Reklamasi pantai untuk kepentingan industri serta sedimentasi dalam skala besar dan luas dapat merusak ekosistem mangrove karena tertutupnya akar nafas dan berubahnya kawasan rawa menjadi daratan.

Seperti halnya yang terjadi di NTT, degradasi sumberdaya pesisir dan laut tidak saja disebabkan oleh factor manusia, tetapi juga oleh factor alam seperti perubahan suhu, salinitas air laut, perubahan iklim, ombak keras, gempa, tsunami dsb. Namun dari data yang diperoleh bahwa kerusakan yang lebih banyak dan lebih parah diakibatkan oleh pengaruh antropogenic (aktivitas manusia) antara lain pencemaran laut oleh tumpahan minyak dan buangan sampah, tangkapan lebih, penambangan terumbu karang, konservasi mangrove menjadi tambak, pemboman ikan menggunakan potassium dan sianida merupakan sebagian indicator bahwa pengelolaan sumber daya pesisir dan laut di NTT menuju kearah yang tidak optimal dan tidak berkelanjutan.

 

3.4  Jenis Pencemaran Hutan Mangrove

Pencemaran yang terjadi baik di laut maupun di daratan dapat mencapai kawasan mangrove, karena habitat ini merupakan ekosistem antara laut dan daratan. Bahan pencemar seperti minyak, sampah, dan limbah industri dapat menutupi akar mangrove sehingga mengurangi kemampuan respirasi dan osmoregulasi tumbuhan mangrove, dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Di pesisir pantai Rembang bahan pencemar yang umum dijumpai di kawasan mangrove adalah sampah domestik,seperti lembaran plastik, kantung plastik, sisa-sisa tali jaring, botol, dan kaleng.

  1. 5    Penanggulangan

Terbesit pertanyaan dari semua masalah yang telah dipaparkan, apakah ada cara untuk memperbaiki suatu hal yang sudah sangat rusak?, Tentunya jawabannya adalah ya. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Apabila kita serius menjalankannya semua akan kembali pada keadaan semula. Lalu bagaimana cara memperbaikinya? Terdapat beberapa cara yang mungkin sedikit demi sedikit dapat memperbaiki keadaan hutan mangrove yang sudah memprihatinkan ini. Beberapa program yang telah dilakukakan salah satunya adalah perspektif pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan. Rehabilitasi sumber daya pesisir dan laut dapat dilakukan antara lain melalui upaya-upaya penanaman mangrove, silvofishery, transplatasi karang dan penerapan teknologi karang buatan (artificialreefs). Konservasi dan rehabilitasi sumber daya pesisir dan laut dalam jangka panjang dengan mengelola sebagian dari kekayaan alam melalui pendekatan ekologis dengan strategi dunia berlandaskan ecodevelopment sebagai berikut:

  1. Perlindungan terhadap kelangsungan proses ekologis beserta sistem-sistem penyangga kehidupan.
  2. Pengawetan keanekaragaman sumber plasma nutfah yang dilakukan di dalam kawasan dan di luar kawasan serta pengaturan tingkat pemanfaatan jenis-jenis terancam punah dengan memberikan status perlindungan.
  3. Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistemnya, melalui:

–          Pengendalian eksploitasi atau pemanfaatan sesuai prinsip-prinsip pelestarian.

–          Memajukan usaha-usaha penelitian, pendidikan dan pariwisata.

–          Pengaturan perdagangan flora dan fauna.

  1. Pengembangan model rehabilitasi hutan mangrove melalui teknik rehabilitasi dengan pendekatan silvofishery.

Untuk mengembalikan fungsi, manfaat serta jasa-jasa lingkungan ekosistem hutan mangrove dan hutan pantai lainnya diperlukan upaya-upaya rehabilitasi dan pengelolaan pesisir yang tepat dan benar. Salah satunya adalah dengan menerapkan konsep tambak ramah lingkungan atau sering disebut juga dengan budidaya tambak yang melestarikan mangrove sebagai jalur hijau atau penanaman mangrove di tambak.

  1. Pengembangan konservasi dan rehabilitasi karang melalui translpatasi karang dan pengembangan terumbu karang buatan.
  2. Peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam rangka pelestarian hutan mangrove melalui kegiatan rehabilitasi hutan mangrove dengan pola partisipati.
  3. Pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan kelompok nelayan untuk pemeliharaan dan penyulaman anakan mangrove.
  4. Meningkatkan pemahaman, koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan konservasi dan rehabilitasi sumber daya pesisir dan laut.
  5. Pengembangan dan pengelolaan potensi ekowisata bahari.
  6. Pembinaan, pengawasan, pengamanan dan monitoring ekosistem pesisir dan laut melalui patrol pesisir, pengawasan sumber daya pesisir, penyuluhan kepada masyarakat.
  7. Penegakan hukum melalui penyelidikan terhadap tindak pidana perairan.

  1. 6       Pelestarian Hutan Mangrove

Upaya pelestarian hutan mangrove yang telah dilakukan baik oleh pemerintah, LSM, ataupun pihak lain selama ini kurang behasil sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini karena kurangnya melibatkan masyarakat pantai dalam pengelolaan mangrove. Untuk itu agar pengelolaan mangrove dapat berhasil, strategi yang harus dikembangkan adalah Pengelolaan Berbasis Masyarakat (Community Based Management) yaitu keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumber daya alam. Masyarakat ikut memikir, memformulasi, merencana, mengimplementasi, memonitor, dan mengevaluasi kegiatan yarg telah dilaksanakan. Melalui pendekatan ini masyarakat merasa lebih diberdayakan dan tanggungjawab masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove akan meningkat.

Kegiatan yang mendukung kreativitas masyarakat untuk memelihara lingkungan sendiri dilakukan sebagai pendukung dari pengembangan program yang dilaksanakan. Hal ini diperlukan karena kegiatan ini menyangkut jaminan akses ke sumberdaya, hak untuk berperanserta dalam pengambilan keputusan dan hak atas pendidikan dan pelatihan yang memungkinkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan mereka secara berkelanjutan disamping memelihara kelestarian lingkungan.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1.       Kesimpulan

Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove tumbuh pada tempat-tempat terjadinya pelumpuran dan akumulasi bahan organik, baik di teluk-teluk yang terlindungi dari gempuran ombak maupun disekitar muara sungai yang airnya melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Untuk dapat bertahan dan berkembang menyebar di kondisi alam yang keras, jenis-jenis mangrove sejati mempunyai cara yang khas yaitu mekanisme reproduksi dengan buah yang disebut vivivar. Cara berkembang biak vivivar adalah dengan menyiapkan bakal pohon (propagule) dari buah atau bijinya sebelum lepas dari pohon induk. Mangrove menghasilkan buah yang mengecambah, mengeluarkan akar sewaktu masih tergantung pada ranting pohon dan berada jauh di atas permukaan air laut. Bijinya mengeluarkan akar tunas sebagai kecambah sehingga pada waktu telah matang akan jatuh lepas dari tangkai dan siap untuk tumbuh.

Hutan mangrove dikatakan penting terhadap lingkungan dikarenakan hutan mangrove memiliki peranan atau fungsi yang penting baik fungsi fisik, fungsi kimia, fungsi biologi, fungsi ekonomi dan fungsi wisata. Dapat dibayangkan dengan fungsinya yang sangat banyak apabila hutan mangrove rusak atau bahkan hilang. Banyak kerugian yang harus ditanggung manusia ataupun makhluk hidup lainnya serta lingkungan. Diantaranya adalah dapat memacu terjadinya bencana alam, erosi pantai, berkembangnya tanah sulfat masam dan sebagainya.

Terdapat beberapa cara yang mungkin sedikit demi sedikit dapat memperbaiki keadaan hutan mangrove yang sudah memprihatinkan ini. Beberapa program yang telah dilakukakan salah satunya adalah perspektif pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan. Rehabilitasi sumber daya pesisir dan laut dapat dilakukan antara lain melalui upaya-upaya penanaman mangrove, silvofishery, transplatasi karang dan penerapan teknologi karang buatan (artificialreefs). Konservasi dan rehabilitasi sumber daya pesisir dan laut dalam jangka panjang dengan mengelola sebagian dari kekayaan alam melalui pendekatan ekologis dengan strategi dunia berlandaskan ecodevelopment.

4.2.       Kritik dan Saran

Pemerintah seharusnya lebih menegakkan hukum dengan member sanksi terhadap oknum yang tidak bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan dengan pembabatan atau penebangan hutan mangrove secara liar atau berlebihan.

Masyarakat pun diharuskan ikut andil dalam penegakan hokum lingkungan, tidak hanya menonton dan menunggu gerak pemerintah dan aparat penegak hokum dalam mengambil tindakan terhadap pelaku perusakan lingkungan.

Pemerintah dan masyarakat harus menjaga kelestarian hutan mangrove dan menjaga agar pembabatan liar terhadapa hutan mangrove tidak terjadi.

Bales Dong

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: