Buku Kuningku


 

Satu tahun berlalu semenjak tugas ini diselesaikan, buku kuningku terproteksi baik didalam wadah yang tak pernah ku usik lagi. lembaran-lembaran kertas berbentuk erlenmeyer ini mulai kugunting saat itu, bersama teman lainnya, hingga malam berlalu barulah buku mini tersusun dengan baik dengan lembaran yang begitu tebal. ide bodoh dengan jilid ring bagian pantat erlenmeyer menjadi suatu yang konyol terdengar. tapi apa salahnya, toh hasilnya akan lebih kuat. Tapi ide bodoh itu menjadi salah ketika evaluasi diadakan, “kalo jilidnya di bawah nanti tumpah erlenmeyernya” ujar salah satu timdis yang ada disitu, alhasil project semalam suntuk harus digarap ulang secara total.

adalah tugas kedua bagi angkatanku dulu untuk membuat buku ini setelah tugas pertama adalam acara bersih-bersih kampus dan senam. menjadi tegang seketika, saat kita merasa ada yang salah dari tugas yang kita terima. kesalahan fatal adalah bagian warna lambang Himka. dengan kertas dasar berwarna kuning, membuat warna pink untuk larutan pada erlenmeyer malah menjadi orange. kan kuning + merah muda = orange. karena ini warna permanet jadi warna erlenmeyer ditutup dengan kertas pink sehingga larutan nampak pink.

posisi lambang menjadi fatal dimana warna yang kita pilih adalah salah. layaknya sang saka merah putih;berani dan suci.menjadi kasih sayang dan suci bila warna merah gamblangnya diganti dengan merah muda. begitupula dengan semua lambang dan simbol sakral yang ada di polban, indonesia juga luar sana.

masalah kekompakan adalah target awal buku ini. saat satu salah dan yang lain benar ; tetaplah itu berarti salah. namun jika kedua-duanya benar barulah ini bernilai benar. tak adil memang jika yang benar dijadikan salah tapi bila dipandang dengan kacamata kekompakan tetaplah bernilai salah. sama seperti paduan suara, salah satu orang salah nada itu akan menghancurkan keharmonisan nada yang tercipta hingga menyebabkan satu tim menjadi salah gara-gara satu orang (saja). (tul)

About HIMKA POLBAN

Walau Kami dilarang untuk berorganisasi di polban, tapi kami tetap ada, tumbuh dan berkembang untuk memajukan anggota kami dengan cara yang kami miliki. no one can stop us now.

Posted on 14 Oktober 2012, in Info POLBAN, Kegiatan HIMKA. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. syarif hidayatullah

    itulah yang menjadi suatu simbol bahwa kita tetap
    satu warna, satu rasa, satu jiwa..🙂
    dan satu untuk semuaaaa..😀 (SCTV)

Bales Dong

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: