SEBUAH CURAHAN HATI ALUMNI SEMATA (TAMPARAN ITU MENJADI MOMENTUM BERSAMA)


Nampaknya sudah menjadi sebuah ke-makhfum-an jikalau proyek pengadaan barang dan jasa pemerintah menjadi sebuah lahan tadah hujan di negeri ini. Celakanya ,hujan deras selalu turun sepanjang tahun di negeri ini, lahan pun menjadi basah meliputi seluruh perangkat pemerintahan. Tidak terkecuali bagi institusi pendidikan yang selama ini dielu-elukan sebagai pusat lahirnya intelektual yang berbudi luhur layaknya yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara. Sebuah perguruan tinggi pun tak pelak menjadi bagian dari  “lahan basah” tersebut. Sebut saja perguruan tinggi tersebut adalah sebuah perguruan tinggi vokasi yang cukup dikenal seantero negeri, berlokasi di perbatasan kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat di sebuah desa bernama Ciwaruga yang sepi jikalau musim libur tiba.

 

Berawal dari berbagai kejanggalan yang terjadi setiap pengadaan barang dan jasa yang ada di perguruan tinggi ini. Mulai dari pengadaan toga, jas almamater, pembangunan berbagai fasilitas kampus dan yang terakhir yang sering diperbincangkan adalah pengadaan wearpack rekan-rekan mahasiswa/i teknik.  Pengadaan wearpack ini menjadi masalah ketika sistem distribusi atau pembagianwearpack yang tidak terkondisikan secara merata dan jelas. Ada sebagian mahasiswa/i yang bahkan belum menerima wearpack yang notabene menjadi haknya di beberapa program studi. Naasnya bagi mahasiswa/I yang telah menerima wearpack tersebut kondisi dan kualitas wearpack yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan, terlebih beberapa rekan mengatakan wearpack tersebut layaknya karung goni bagi Romusha pada zaman Jeppun berkuasa.  Alangkah bagusnya mahasiswa pun mungkin dianggap Romusha.

 

Lebih jauh, di perguruan tinggi ini keterbukaan pengelolaan dana terutama yang berkaitan kemahasiswaan terbilang cukup sulit di akses bahkan terkesan ditutup-tutupi. Padahal merunut UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Nomor 18 Tahun 2008 Pasal 9 dinyatakan bahwa setiap Badan Publik, dalam hal ini perguruan tinggi tersebut, wajib mengumumkan secara berkala minimal 6 bulan sekali informasi yang berkaitan dengan Badan Publik,  informasi mengenai kegiatan dan kinerja Badan Publik terkait, informasi mengenai laporan keuangan; dan/ atau informasi lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Terlalu jauh untuk iktikad mengumumkan, untuk memberikan data saja seperti menulis di atas air. Hal tersebut tentunya sangan bertentangan dengan amanat UU KIP Pasal 4 yaitu  dinyatakan “Setiap orang berhak untuk melihat dan mengetahui Informasi Publik; menghadiri pertemuan publik yang terbuka untuk umum untuk memperoleh Informasi Publik;mendapatkan salinan Informasi Publik melalui permohonan sesuai dengan Undang-Undang ini; dan/ atau menyebarluaskan Informasi Publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan.” Memang harus dipahami tidak semua pihak yang menghalang-halangi akses data, namun perlu dipahami bahwa sudah tidak ada ruang bagi siapapun itu sebagai pejabat maupun pelayan publik untuk menghalang-halangi akses data atas dasar yang tidak jelas dan cenderung defensif Salah satu contoh kasus penghambatan akses data yang dimaksudkan yaitu kasus paling aktual yang dialami Ketua Departemen Advokasi dan HAM BEMA KEMA  2012 Dede Rahmat Hermawan (NIM 105244009) yang berujung PENYERANGAN FISIK (TAMPARAN) oleh seorang oknum karyawan perguruan tinggi tersebut. Berikut petikan kronologis peristiwa yang penulis dapatkan langsung dari kesaksian korban :

 

Kronologis kejadian hari Rabu 25 Januari 2012  ,jam 11.00 WiB di Ruang Aset  Direktorat. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Darman, Kepala Bagian Sarana Dan Prasarana, yang telah memberikan penjelasan yang ramah kepada saya, sebelumnya, serta Bapak Nandang Sunarya kepala di Bagian gudang di Gedung Merah yang telah “welcome” juga untuk berbicara dan memberikan penjelasan serta memperlihatkan barang wearpack-nya.

 

 

Pertama-tama saya masuk keruangan tersebut dengan etika dan sopan santun yaitu mengucapkan salam dan memberikan keterangan maksud dan tujuan  kedatangan saya, yaitu ingin bertemu dengan Pak Maman sesuai rekomendasi dari pak Nandang Sunarya yang ada di Bagian Gudang barang,untuk  mengetahui perihal data mahasiswa yang belum menerima wearpack,tujuannya adalah untuk membantu menginformasikan serta mendistribusikan kepada rekan-rekan mahasiswa untuk segera mengambilnya , saya diterima oleh Bapak X(karena saya tidak tahu pasti namana) beliau menjawab bahwa Pak Maman sedang berada di luar, dan setelah itu dari seberang sana ,seorang bapak yang ternyata diketahui namanya Pak Yudi (Bukan Mr.M yang diberitakan sebelumnya-terdapat kesalahan informasi) langsung bertanya kepada saya asal dan utusan dari mana , “ Dek kamu dari Mana? “ saya jawab saya dari AN pak,” “dari AN atau dari BEMA ? “saya dari AN dan utusan dari BEMA”  saya dari pertama sudah menerima nada suara yang tinggi dari pak Yudi , dan saya coba untuk menenangkan diri saya dan suasana, saya meminta untuk dipersilahkan duduk Oleh pak Yudi ,dan beliau pun mempersilahkan , saya jelaskan perihal kedatangan saya lagi , kepada beliau, dan beliau menanyakan untuk apa data tersebut? Sampai sampai terlontar ucapan dari beliau “ Ade kamu mau mencari kesalahan saya ya,,,mau menjadi seperti KPK ?”  saya jelaskan terkait dengan kedatangan saya saya hanya menerima aspirasi dari sebahagian mahasiswa yang mengeluhkan tentang wearpack  sekarang dan ada yang belum menerima wearpack, saya selaku dari perwakilan BEMA KEMA POLBAN departemen Advoksi dan HAM ingin menanyakan hal itu serta tujuan meminta data adalah untuk memberikan informasi yang nantinya kita salurkan informasi tersebut kepada rekan-rekan mahasiswa.

 

 

Saya sudah menerima perlakuan yang tidak enak dari Awal dan ketika berlangsungnya diskusi. Singkatnya ketika saya memberikan keterangan terkait hal itu saya akui salah tidak menyerahkan surat tugas(hanya membawa surat dari BEM untuk meminta data terkait wearpack tersebut) dan tidak menempuh prosedur dari yang disarankan ,karena ketidaktahuan saya selaku Mahasiswa. Hal yang diucapkan pak Yudi terhadap saya adalah “kamu Bodoh,sialan dan lain sebagainya” perkataan itu tidak seharusnya dilontarkan selaku orang yang berpendidikan dan mempunyai nilai moral Agama, Rosul sekalipun yang bebas dari dosa dia tidak pernah merasa dia yang paling benar dan menjudge orang bodoh dan lain sebagainya.

 

 

Dari kronologis dalam hemat penulis ada setidaknya dua hal yang harus menjadi pertimbangan dan perenungan bagi pihak-pihak yang terkait, yaitu :

 

I.Pelaku penyerangan yang notabene adalah karyawan perguruan tinggi ini secara langsung telah menghalangi akses data yang dibutuhkan dalam hal keterbukaan publik, dan lebih jauh suatu kewajaran jika kita selaku mahasiswa yang membayar iuran khusus untuk seragam wearpack dari jerih payah orang tua untuk mengetahui nasib dari uang yang kita iurkan tersebut. Adalah suatu keanehan jika pelaku terkesan defensif dan justru emosional jika ditanya tentang data yang wajar ditanyakan. Hal tersebut justru memicu dugaan “something’s wrong” dengan pengadaan wearpack ini. Psikologis seorang yang merasa bersalah tentunya akan emosional dan cenderung defensif kan? Mana ada maling yang mengaku maling? Lebih jauh ini secara tidak langsung membuktikan bahwa manajemen dan proses pengadaan barang dan jasa di perguruan tinggi  ini bermasalah. Perlu dilakukan penyelidikan yang komperhensif dan mendalam guna membuka borok-borok yang telah terjadi sebelumnya sebagai bahan pembelajaran di masa mendatang dengan tentunya diproses secara hukum yang berlaku.

 

II.Seluruh tindakan penyerangan dan kekerasan fisik dalam institusi pendidikan sangatlah tidak dibenarkan apa pun alasannya bahkan karena masalah pribadi. Di saat negeri ini menggalakan pelarangan tindakan kekerasan terutama di dunia pendidikan justru salah satu abdi negaranya dengan semena-mena melakukan tindakan kekerasan tersebut. Dalam proses penyelesainnya tentunya asas kekeluargaan merupakan penyelesaian yang terbaik. Namun diperlukan suatu bentuk sanksi tegas yang membuat pelaku jera bahkan dapt menjadi pelajaran bagi pihak lain yang ingin berlaku sama. Jika tidak hal tersebut akan menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan. Sanksi yang dapat dikenakan kepada pelaku adalah permintaan maaf secara resmi serta dipublikasikan kepada seluruh lapisan perguruan tinggi tersebut, ataupun disiarkan melalui media massa. Lebih jauh jika menilik dari ranah hukum pidana dalam Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP) tindakan semena-mena ini dapat dikategorikan sebagai “Perbuatan yang Tidak Menyenangkan” sebagaimana dalam Bab XVIII Tentang Kejahatan Terhadap Kemerdekaan Orang Pasal 335 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang rumusannya berbunyi : (1). Diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah; Ke-1 : Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri atau orang lain. Ke-2 : Barang siapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis. (2). Dalam hal diterangkan ke-2, kejahatan hanya di tuntut atas pengaduan orang yang terkena. Walaupun pasal ini sering dianggap oleh para praktisi hukum sebagai pasal “sampah”, namun hal tersebut tidak menghapus esensi dari eksistensi dari pasal ini sendiri termasuk tindakan hukum yang mungkin dapat ditempuh oleh korban.

 

Di samping itu, tentunya peristiwa ini selayaknya dijadikan MOMENTUM BERSAMA bagi para mahasiswa/i serta pihak-pihak terkait untuk bangkit dan semakin bergerak masif bahu membahu membuka tabir berbagai permasalahan terkait pengelolaan keuangan di dalam perguruan tinggi ini. Bagi pihak manajemen dan seluruh jajaran karyawan peristiwa ini dapat menjadi pelajaran serta PERINGATAN bahwa para mahasiswa/i bukanlah sebagai “objek bisnis” semata, tetapi memiliki kedudukan yang sama. Para mahasiswa/i bukanlah juga pihak yang semudah itu ditipu dan dikibuli dengan akal bulus yang ternyata tak sedalam samudera.

 

Mahasiswa/i ini layaknya dijadikan rekan dalam bekerja untuk membangun dan maju bersama. Penulis pun yakin masih ada orang-orang yang berhati mulia dan bijaksana dalam mengelola dan menjalankan keberlangsungan perguruan tinggi ini. Tetapi alangkah merana-nya ketika orang-orang tersebut tergerus oleh digdaya para tikus-tikus busuk pemakan segala.

#######################################################################

 

Sebagai informasi tambahan penulis juga mendapatkan informasi dari korban serta beberapa pihak selama proses pengumpulan bukti dan data ternyata diduga terdapat sistematika “supplier bersama” dimana supplier/penyedia barang dan jasa beberapa proyek di perguruan tinggi ini adalah orang-orang internal perguruan tinggi ini sendiri bahkan beberapa alumni perguruan tinggi ini sendiri yang track record dan prestasi perusahaannya tidak memenuhi kriteria pengadaan barang dan jasa seperti yang termaktub dalam Perpres 54 tahun 2010. Bahkan untuk kasus pengadaan toga lulusan 2011 diduga terjadi kesalahan fatal oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) beserta petugas pengadaan lainnya yang diduga juga tidak bersertifikat ahli pengadaan barang dan jasa pemerintah dimana kesepakatan penyelesain pekerjaan pengadaan toga harus selesai setelah satu bulan terhitung setelah ditandatangani lucunya waktu penandatanganan adalah 18 September berarti toga akan selesai pada tanggal 18 Oktober yang berarti memang tidak bakal selesai ketika wisuda (1 Oktober), walaupun mereka mengatkan bahwa ada kesepakatan tertulis diluar kontrak untuk penyelesaian sebelum 1 Oktober. Menurut hemat saya justru pernyataan mereka menambah satu masalh baru yaitu adanya suatu produk hukum yang menyalahi dan bertentangan dengan produk hukum lainnya. Selain itu juga supervisi/pengawasan terhadap supplier yang memenangkan tender tidak maksimal sehingga supplier tersebut melimpahkan pekerjaan pembuatan toga kepada banyak sub-supplier yang tentunya menambah risiko pekerjaan tidak selesai tepat waktu.

 

Masalah lain yang perlu menjadi sorotan adalah salah satu rekan kita yang bernama cici angkatan 2011 yang sedang sakit dan mebutuhkan dana yang tidak sedikit. Ketika orang tua rekan kita tersebut meminta bantuan ke kampus seolah-olah tidak ada bantuan yang tersedia, padahal mekanisme asuransi yang iurannya kita bayarkan setiap tahunnya ternyata tidak ada dikarenakan dana belum turun, akhirnya dengan inisiatif bersama BEMA KEMA dilakukanlah gerakan 1000 cinta untuk Cici. Tidak adanya asuransi ini lagi-lagi sebuah kecerobohan yang dilakukan pihak-pihak terkait terutama manajemen selaku penanggungjawab keuangan perguruan tinggi ini.Pengelolaan keuangan yang tidak visioner dan preventif adalah biang timbulnya masalah ini. Sungguh memalukan.

 

*************************************************************************************************

Untuk melengkapi curahan hati penulis persembahkan sebuah sajak berlatar peristiwa sebelumnya:

 

SAJAK CINTA BUKAN GALAU SEMATA

 

Ah sedihny hidup di negeri Bapak dan Ibu Jeppun penguasa

Mereka terdidik dan berkuasa

Tapi, rakyat ditindas tiada daya upaya

Ya namanya juga pendidik dan penjajah semata

Meminta data, dikasih hardikan di muka

Layaknya Romusha, Si Pekerja Paksa

 

Ah lucunya hidup di negeri Bapak dan Ibu dunia Cinderella

Mereka baik dimuka, tapi tak tahu dalamnya

Bertanya, malah dikasih sumpah serapah semata

Mengkritik, jangan coba-coba

Harga diri taruhannya bahkan nyawa kalau bisa

Terbelalak dan ternganga kami dibuatnya

 

Lalu apa hendak dikata

Jika mereka ada bersama kita

Hidup menumpang pun bersama

Ya layaknya orangtua berkata

Ayolah berdamai saja, membangun bersama

Maju pun bersama, jangan dibeda-beda

Toh akhirnya sama juga

Masuk liang dan pasti menutup mata

(Bandung, 23.01 WIB 26 Januari 2012)

 

JIKA ANDA MENGETAHUI JAWABAN PERGURUAN TINGGI MANAKAH YANG PENULIS MAKSUDKAN SILAHKAN JAWAB SENDIRI ATAU MUNGKIN BISA DITULIS DI BAGIAN KOMENTAR DIBAWAH. SEPULUH ORANG PERTAMA MENJAWAB AKAN MENDAPATKAN SENYUMAN MANIS DARI SAYA. HAHAAHAHAHHAHA…….WHY SO SERIUS????? TAKE IT EASY ??? SILAHKAN DI SHARE KAWAN-KAWAN SEMOGA MENJADI WARNA BARU UNTUK BAHAN PERTIMBANGAN…. SALAM PERJUANGAN😀😀😀

 

Sumber :http://www.facebook.com/notes/adrian-chandra-faradhipta/sebuah-curahan-hati-alumni-semata-tamparan-itu-menjadi-momentum-bersama/10150634330177176

About HIMKA POLBAN

Walau Kami dilarang untuk berorganisasi di polban, tapi kami tetap ada, tumbuh dan berkembang untuk memajukan anggota kami dengan cara yang kami miliki. no one can stop us now.

Posted on 28 Januari 2012, in UMUM and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Bales Dong

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: