Laporan Titrasi Oksidasi Reduksi

  1. TITRASI OKSIDASI-REDUKSI

    1. A.    Tujuan
    2. Mempelajari prinsip oksidasi dan reduksi
    3. Memahami konsep reaksi oksidasi-reduksi melalui titrasi
    4. Menentukan konsentrasi atau kadar logam dalam sampel
    1. B.     Dasar Teori

    Titrasi redoks adalah metode penentuan kuantitatif yang reaksi utamanya adalah reaksi redoks, reaksi ini hanya dapat berlangsung kalau terjadi interaksi dari senyawa/unsure/ion yang bersifat oksidator dengan unsure/senyawa/ion bersifat reduktor. Jadi kalau larutan bakunya oksidator, maka analat harus bersifat reduktor atau sebaliknya. Berdasarkan sifat larutan bakunya maka titrasi redoks dibagi atas : oksidimetri dan reduksimetri.

    Oksidimetri adalah metode titrasi redoks dengan larutan baku yang bersifat sebagai 0ksidator berdasarkan jenis oksidatornya maka oksidimetri dibagi menjadi 4 yaitu :

    Permanganometri, larutan baku yang digunakan larutan kmno4, ini selau di;laksanakan dalam suasana asam dimana KMno4 mengalami reaksi reduksi.

    Mn04-     +     8H+     +     5e- —–> Mn2+     +     4H2O

    Dikhrometri, larutan baku yang digunakan adalah larutan K2Cr2O7 sepanjang titrasi dalam suasana asam K2Cr2O7 mengalami reduksi.

    Cr2O72-     +     14H+     +     6e-  ——>  2Cr3+     +     7H2O

    Serimetri, larutan baku yang digunakan adalah larutan Ce(SO4)2 reaksi reduksi yang dialaminya adalah :

    Ce4+     +     e-     ——>     Ce3+

    Iodimetri, larutan yang digunakan adlah I2 dimana pada titrasi mengalami reduksi.

    I2     +     2e-     ——>     2I-

    Reduksimetri adalah metode titrasi redoks dengan larutan baku yang bersifat sebagai reduktor dan salah satu metode reduksimetri yang terkenal adalah iodometri, pada iodometri larutan baku yang digunakan adalah larutan Natrium tio sulfat yang pada titrasinya mengalami oksidasi.

    2S2O32-    ——>   S4O62-     +     2e-

     

    1. C.    Data Percobaan dan Pengolahan Data
    2. Permanganometri
      1. Standarisasi larutan KMnO4 dengan larutan oksalat

    No

    Volume (mL)

    • oksalat

    KMnO4 awal

    KMnO4 akhir

    KMnO4 yang diperlukan

    1

    25

    0,00

    23,95

    23,95

    2

    25

    3,40

    23,95

    23,95

    3

    -

    -

    -

    -

    Rata rata

    23,95

    Perhitungan :

    Ÿ        Berat oksalat              = 0,6312 gram

    Ÿ        ŸBE oksalat                   = 12/2 = 63

    Ÿ        Volume labu              = 100 mL

    Ÿ        Noksalat                       = Berat/BE x1000/100

    Ÿ        Ÿ        Ÿ        Ÿ        Ÿ        Ÿ        = 0,1002 N

    NKMnO4        Ÿ                       =0,1046 N

    • Penentuan ion ferro

    1. Ion ferro (Fe2+)

    No

    Volume (mL)

    Sampel

    KMnO4 awal

    KMnO4 akhir

    KMnO4 yang diperlukan

    1

    25

    0,00

    33,60

    33,60

    2

    25

    1,00

    33,60

    33,60

    3

    -

    -

    -

    -

    Rata rata volume (KMnO4)i

    33,60

    Perhitungan :

    Dalam 25 larutan  terdapat ion Ferro

    = V (KMnO4)i x N KMnO4 mgrek

    = 33,60 mL x 0,1046 N

    =  3,5146 mgrek

    Dalam 1 L terdapat ion Ferro :

    = 56 x 1000/25 x 1 x NKMnO4

    = 7872,61 mgram (misal = y mgram)

    Jadi, kadar ion Fe2+dalam garam mohr :

    = y/(1000 x berat Sampel) x 100%

    =1,47 %

    ————————————————————————————————————————————————————–

    Pembahasan Titrasi Permanganimetri

    (Titrasi Redoks)

    Prinsip percobaan dari titrasi redoks:

    • Sejumlah tertentu zat yang akan di analisa yang memiliki bilangan oksidasi dan potensial reduksi tertentu direaksikan dengan standar dengan bilangan oksidasi dan juga memiliki harga potensial reduksi tertentu yang memungkinkan untuk bereaksi, pada suasana optimal dengan penambahan indikator yang memilki perbedaan warna antara bentuk tereduksinya dengan bentuk teroksidasinya. Sehingga pada keadaan titik ekuifalen berlaku persamaan Nerst.

    Pembahasan pada penentuan konsentrasi KMnO4

    • Titrasi permanganimetri adalah titrasi dengan menggunaka larutan kalium permanganat yang berwarna ungu. Kalium permanganat merupakan zat baku sekunder karena kalium permanganat tidak stabil, mudah terurai oleh cahaya dan mudah terurai oleh zat organik membentuk MnO2. Reaksi kalium permanganat dengan zat organik terbilang sangat lambat sehingga ketika membuat larutan kalium permanganat harus dipanaskan dan disaring dengan glaswol atau kacamasir, pemanasan berfungsi mempercepat reaksi permanganat dengan zat organik membentuk MnO2 yang mengendap berwarna coklat berbentuk koloid (seperti lumpur) sehingga dalam pembuatannya ketika setelah dipanaskan harus disaring terlebih dahulu agar bebas dari MnO2 ini. Jika didalam larutan KMnO4 masih terdapat MnO2 maka konsentrasi permanganat seiring berjalannya waktu makin berkurang (terurai). Oleh karenanya perlu dilakukan standarisasi berkala.
    • Pada saat  titrasi yang melibatkan kalium permanganat sebaiknya digunakan alat gelas (buret, botol penyimpanan larutan) yang berwarna gelap, karena dikhawatirkan kalium permanganat yang sedang digunakan, terurai oleh cahaya, sehingga apabila tidak ada botol ataupun alat gelas yang gelap, sebaiknya digunakan penutup ( bisa berupa alumunium foil ataupun plastik hitam) untuk membungkus alat gelas bening tersebut agar kedap cahaya.
    • Kalium permanganat merupakan oksidator kuat karena memiliki harga potensial reduksi yang besar yang berarti kalium permanganat sangat mudah direduksi sehingga memiliki daya oksidasi (sifat oksidator) zat lain yang menjadi lawannya, dengan mekanisme reaksi;

    MnO4- + 8H+ + 5e-  ——–> Mn2+ + 4H2O     ( Eo= +1,52)

    Berdasarkan reaksi, kalium permanganat hanya bersifat oksidator dalam suasana asam, namun pada suasana basa kalium permanganat ini tidak memiliki daya oksidasi, melainkan malah mengendap menjadi Mn(OH)2 yang nantinya akan membentuk MnO2 yang mengendap juga. Oleh karena itu pada saat titrasi penentuan konsentrasi kalium permanganat harus ditambahkan asam sulfat. Kalium permanganat juga dapat berfungsi sebagai zat yang memiliki kemampuan sebagai autoindikator, artinya bentuk teroksidasi dan tereduksi dari kalium permanganat memiliki warna yang berbeda sehingga pada saat proses titrasi yang melibatkan kalium permanganat tidak perlu ditambahkan indikator redoks.

    • Pada saat penentuan konsentrasi kalium permanganat, digunakan asam oksalat sebagai zat baku primer. Asam oksalat dikatakan zat baku primer dikarenakan asam oksalat merupakan zat yang stbil, memiliki Mr tinggi dan memiliki kriteria lainnya sebagai standar primer. Asam oksalat dapat bereaksi dengan kalium permanganat dengan reaksi:

    C2O42-       ——–>  2CO2  + 2e- (x5)

    MnO4- + 8H+ +5e-    ——–>   Mn2+ + 4H2O (x2)

    5C2O42- + 2MnO4-+16 H+  ——–>   2Mn2+ + 8H2O +10 CO2

    • Karena asam oksalat merupakan asam organik, asam oksalat bereaksi lambat dengan kalium permanganat, sehingga dalam proses titrasinya harus dalam keadaan panas, agar kita lebih mudah melakukan titrasi dan mencegah kesalahan penentuan Titik Akhir yang diakibatkan oleh lamanya reaksi antara asam oksalat dan kalium permanganat.
    • Fungsi penambahan asam sulfat selain untuk mengasamkan larutan pada saat titrasi asam sulfat juga berperan sebagai pembentuk garam sulfat, karena jika Mn2+ bereaksi dengan anion  sulfat membentuk larutan MnSO4 yang tidak berwarna, sehingga produk yang terbentuk (Mn2+) tidak akan mengganggu pengamatan pada saat titik akhir.

    Pembahasan penentuan kadar Besi II (Fe2+)

    • Sampel yang digunakan adalah sampel garam mohr dengan rumus kimia (NH4)2Fe(SO4)2 atau sering kita sebut sebagai ferro amonium sulfat, karena besi sangat mudah di oksidasi menjadi Fe3+ sehingga digunakan larutan kalium permanganat sebagai standar.
    • Pada sampel yang digunakan (garam mohr) yang seharusnya berwarna hijau kebiruan, terdapat warna kuning, ini membuktikan bahwa sebagian besi II dalam garam mohr tersebut sudah teroksidasi menjadi Besi III, sehingga ketika dilarutkan kedalam labu ukur pun, warna sampel menjadi lebih kuning semu hijau.
    • Saat melarutkan sampel Fe2+ tersebut harus ditambahkan asam terlebih dahulu untuk menghindari Hidrolisis, yaitu reaki logam dengan air menghasilkan sesuatu yang lemah yang dapat mengendap dengan reaksi :

    Fe2+ + H2O  ——–>  Fe(OH)2 (s)

    Jika Fe(OH)2 yang terbentuk, besi II hidroksida tersebut sulit dioksidasi sehingga pada saat titrasi Fe(OH)2 berbentuk tetap mengendap dan tidak bereaksi dengan kalium permanganat, dan perhitungan pun menjadi salah (kadar besi II menjadi lebih kecil)

    • Fungsi penambahan asam sulfat pada saat sebelum titrasi adalah agar suasana menjadi asam karena kalium permanganat memiliki daya oksidasi yang kuat hanya dalam suasana asam.
    • Pada saat titrasi penentuan kadar besi II yang dititrasi adalah hanya besi II dalam larutan, sehingga tidak perlu ditambahkan SnCl2 sebagai reduktor untuk mereduksi besi III dalam larutan menjadi besi II. Reaksi yang terjadi pada saat titrasi adalah :

    Fe2+     ——–>  Fe3+ +e- (x5)

    MnO4- + 8H+ +5e-    ——–>   Mn2+ + 4H2O

    5Fe2+ + MnO4- + 8H+   ——–>    Mn2+ + 4H2O + 5Fe3+

    • Pada saat titrasi penentuan kadar besi II tidak perlu dilakukan pada suhu panas, karena reaksi oksidasi pada besi oleh kalium permanganat berlangsung secara cepat. Sehingga tidak perlu katalis ataupun pemanasan untuk mempercepat reaksi.
    • Titrasi dilakukan dari mulai tidak berwarna, hingga berwarna pink semu (hampir tidak terlihat) karena dalam titrasi pada saat Titik Akhir merupakan akibat dari  kelebihan sedikit  titran setelah titik ekuifalen, yang merupakan kesalahan titrasi, oleh karena itu untuk mendapatkan kesalahan yang sesedikit mungkin, maka kelebihan titran juga harus sesedikit mungkin, yang ditandai dengan perubahan warna dari yang tadinya tidak berwarna menjadi berwarna rose pucat. Dan perlu diingat bahwa titik ekuifalent tidak sama dengan titik akhir.

    KESIMPULAN

    Dari praktikum kali ini dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain :

    1. Normalitas larutan Oksalat adalah 0,1002 N
    2. Normalitas larutan KMnO4 adalah 0,1046 N
    3. Kadar ion Fe2+ dalam garam mohr  adalah %

     

    DAFTAR PUSTAKA

    http://annisanfushie.wordpress.com/2009/05/02/permanganometri (diakses tanggal 06 April 2011)

    http://id.wikipedia.org/wiki/permanganometri (diakses tanggal 06 April 2011)

     

    Download Laporan Versi PDF Disini

    Catatan : jangan asal copy paste yah gan…
    entar ketauan deh sama dosennya…
    OK….!!
    semoga membantu..

  1. Makasih untuk datanya, sangat sesuai dgn apa yg bt cari.

  2. thanks ya postingannya, membantu banget deh :)

Bales Dong

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: